Kamis, 09 Februari 2012

Cerita Cinta Enrico

Cerita Cinta Enrico adalah novel kelima Ayu Utami. Novel yang terbit pada 7 Februari 2012 ini merupakan novel yang berlatarkan kisah nyata seorang tokoh yang bernama Prasetya Riksa atau Enrico.
Enrico lahir di Padang pada zaman pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) Tahun 1958. Ayah Enrico adalah seorang perwira berpangkat Letnan, yang pada masa itu juga ikut terlibat dalam pemberontakan PRRI. Sedangkan Ibu Enrico adalah seorang wanita modern, seorang wanita yang selalu memakai rok selutut dan sepatu pantovel, wanita yang tidak tahu apa-apa tetapi harus ikut terlibat dalam perang gerilya pemberontakan PRRI.
Novel yang hanya terdiri tiga bab ini sangat menarik untuk dibaca, novel ini akan membawa kita pada tiga zaman yang berbeda: Orde lama, orde baru, dan reformasi. Pada bab pertama novel ini berkisah tentang kehidupan yang berlatarkan kehidupan pemberontakan PRRI di belantara dan kampung pelosok Sumatera Barat. Enrico yang masih bayi bersama kakaknya yang masih kecil harus berhadapan dengan kerasnya hidup pada zaman pemberontakan.
Dalam bagian awal novel ini kita akan dibawa masuk pada romantisme perang gerilya pemberontakan PRRI, disini akan mucul tokoh tokoh Pahlawan Revolusi Kolonel Ahmad Yani, yang memimpin pasukan untuk menghancurkan pemberontakan PRRI dalam operasi yang dikenal dengan operasi 17 Agustus ini, pemberontakan PRRI berhasil dihancurkan. Ayah Enrico menyerahkan diri, dan pada akhirnya harus mengalami penurunan pangkat, dan boleh menjadi tentara pada KUDAM III Padang. Enrico menghabiskan masa sekolahnya di Kota Padang, menurut saya bagian Cerita Cinta Enrico yang bersetting-kan kota Padang sangat menarik. Ayu sangat fasih menyebutkan tempat-tempat di Kota Padang, seperti Teluk Bayur, Bandar Buat, Fosil Malin Kundang, Lapangan Iman Bonjol, Taman Melati, dll.
Novel yang penuh dengan letupan emosi ini berlanjut, Sanda (kakak Enrico) meninggal dunia akibat sesak nafas setelah siang harinya Enrico, Ayah Enrico, dan Sanda bermain di pantai. Akibat meninggalnya Sanda, kehidupan Ibu Enrico berubah. Ibu Enrico menjadi sendu, dan pelan-pelan Enrico mengalami mulai kehilangan ibunya yang dulu. Ibu Enrico kian berubah setelah ia bertemu dengan pengkabar Saksi Yehuwa (sebuah sekte yang tidak diakui dalam Kristen, red.) Orang tersebut menurut Enrico dikenal sebagai Om Khasiar. Pemuda tersebut berbicara tentang hari kebangkitan, didalam Saksi Yehuwa, mereka akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat kelak. Bukan untuk hidup di surga sebagai roh seperti malaikat. Melainkan, dalam darah dan daging yang sama , di muka bumi yang sama—dalam bumi yang disucikan yang disebut dengan Dunia Baru. Pengetahuan tersebut memberikan Ibu Enrico harapan agar dapat bertemu kembali dengan Sanda. Saksi Yehuwa percaya kiamat akan terjadi pada tahun 1975. Ibu Enrico yang dulunya berkeluarga zending Kristen, memilih untuk mengikuti sekte Saksi Yehuwa, akibatnya, keputusan tersebut memperburuk hubungan Enrico dengan Ibunya. Sampai akhirnya Enrico harus memilih kuliah di ITB dan tidak akan kembali lagi ke Padang.
Enrico yang kuliah di Teknik Pertambangan ITB adalah pemuda yang liar dan menikmati kebebasan. Enrico mengkritik Soeharto yang tidak memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berpendapat, Soeharto mengkebirikan hak mahasiswa pada zaman itu. Enrico dibungkam. Enrico akhirnya lebih memilih bergabung dalam kelompok panjat tebing Skygers. Enrico bercerita bahwa periode panjat tebing adalah mimpi terindah dalam hidupnya. Tokoh Enrico juga merupakan seorang fotografer. Karena profesinya sebagai fotografer, akhirnya ia berkenalan secara intens dengan tokoh A (Ayu Utami). A meminta Enrico untuk melakukan foto nude, dan A adalah modelnya.
Berbeda dengan novel Ayu sebelumnya, tokoh didalam novel Cerita Cinta Enrico adalah nyata. Enrico sendiri merupakan Prasetya Riksa—pacar Ayu Utami, mereka sempat hidup “bersama” tanpa ikatan pernikahan. Tokoh A dalam novel Cerita Cinta Enrico adalah Ayu Utami sendiri. Novel yang sangat menarik, Ayu menjadi tokoh dalam novel tersebut. Ayu tanpa ragu bercerita pengalaman seks-nya dengan Enrico. Ayu dan Enrico sama-sama menolak konsep pernikahan. Ayu berpendapat bahwa hukum perkawinan di Indonesia menjadikan suami kepala keluarga, dan ia tidak mau itu. Sedangkan bagi Enrico, menikah hanya akan menghilangkan kebebasannya. Soal seks, Enrico tidak mempermasalahkannya, dia bisa mendapatkan seks tanpa harus menikah. Di novel, Enrico pertama kali melakukan hubungan seksual dengan perempua disaat SMA. Enrico sangat menghargai perempuan sehingga dia selalu sedia kondom. Enrico tidak mau perempuan yang disetubuhinya hamil. Di dalam novel Cerita Cinta Enrico memang dibumbui dengan seks, justru itulah hal yang menarik. Saya setuju dengan Ayu bahwa seks bukan sesuatu yang kotor, dan kita tak perlu takut dengan seks. Bahkan Ayu berani bercerita tentang pengalan seksualnya dengan Enrico. Saya memberikan apresiasi kepada Ayu, saya menerima idenya.
Seperti novel Ayu Utami yang terdahulu, novel ini pun membahas agama. Tokoh Enrico beribu seorang Kristen, dan Ayahnya seorang Islam yang tak taat. Enrico mengutuk agama, karena agama, ibunya berubah—agama merusak kebahagiaan keluarganya. “Aku tak percaya pada Kitab Suci” sahutku. Aku lalu menambahkan, “Aku membaca Alkitab. Tapi tidak percaya.”
Cerita Cinta Enrico juga menolak konsep Tabula Rasa. Ayu mengemuka kan konsep dosa asal yang dirumuskan oleh St. Agustine: Manusia lahir dengan dosa asal. Dan dosa asal itu “ditularkan” atau tepatnya diteruskan dari orang tua ke keturunannya melalui hubungan seks. Kita tidak bisa memilih lahir sebagai anak kaya atau miskin. Kita tidak bisa memilih talenta. Kita lahir membawa cacat dan kelemahan genetik orang tua kita. Kita bukan selembar kertas kosong. Dosa asal datang bersama rasa malu dan syahwat. Dan rasa malu menurut Ayu datang dengan kesadaran bahwa kta menempatkan diri dan orang lain dalam relasi yang tidak pantas. Relasi obyektivikasi. “Bayangkan, kita kok doyan sama kelamin orang lain. Kan memalukan” kata Ayu.
Novel terbaru Ayu Utami sangat cerdas, ide-ide dalam novel terbarunya sangat menarik untuk ditelaah, dalam novel tersebut juga dibahas teori psikoanalisa Freud. Ayu pantas diberikan dua jempol untuk Cerita Cinta Enrico. Selain itu, saya merasa tokoh Enrico punya banyak kemiripan dengan saya. Membaca Cerita Cinta Enrico seperti membaca diary pribadi saya. Saya merekomendasikan novel ini. Sebagai penggila sastra, novel ini mencerahkan saya.

Selasa, 10 Maret 2009

Warna

Kekuning-kuningan rasa syaraf
Kebiru-biruan binatang liar
Hadir dan hilang kemerah-merahan
Bumi dan langit menjadi kehitam-hitaman
Benarkah rumput itu hijau dan rasa itu putih?

Semua bagaikan teka-teki
Yang keputih-putihan
Semua terbias oleh warna sendu
Dan keindahan warna-warni

M3i 02

----

--

Anjing

Disatu malam yang sepi
Kedua tanganku dibebani
Dengan gunung yang berat
Saat itu aku diperkenalkan
Dengan sang bidadari yang cantik…
Masa berlalu silih berganti
Ternyata ku baru menyadari
Bahwa bidadari itu anjing yang menjijikkan
Dia adalah seekor anjing yang menjilati muntahnya sendiri…

Jun 04

Bundaku yang cacat

Pertiwi itulah nama bundaku….
Jeritan tangismu meledakkan dunia mimpiku..
Kapankah kau berhenti menangis???
Kapankah penderitaanmu berhenti???


Bunda, aku melihat semua dukamu!
Semua ini menjadi kudis dan cacar yang bernanah dipundakmu…
Bunda lihatlah….. darah mengalir ditanganmu…
Kakimu tidak dapat berdiri seperti impianmu…

Bunda… bunuhlah aku…!
Bunuhlah semua kakak-kakakku
Kami adalah anak durhaka yang yang besar ditelapak tanganmu..
Yang saling menyakiti diantara kami…
Yang tak pernah menghiraukan kematian dan penderitaanmu..
Bunda pertiwiku yang cacat…

17 agustus 05

Indonesia is a crying nation

Indonesia, when will you stop crying?
When all those hardous crisis are growing decline?
I see your hurt, I feel your pain!
All those things create many crabes on your body…
I found the reason of your crying…
Your bleeding…. Paralyze..
And you are growing bad children..
Who never respect you.
Who never care of their brothers!
Who never care their death..

Juliee 04

Kepingan diri

Kepingan diri, walaupun engkau hanya angin yang tidak terlihat……
Tapi engkau adalah nafasku……..
Engkau hanya kerikil-kerikil kecil yang tidak berguna……
Tapi engkau adalah batu pijakan bagiku agar aku tidak tergelincir……
Engkau tidak mengenal penderitaanmu, karena memikirkanku……
Engkau bukan apa-apa didunia ini dimata orang lain………
Tapi engkau sanggup memberiku udara segar….
Engkau slalu memberikanku semangat disaatku terjatuh…
Memberikan detak jangtungmu disaat jantungku berhenti…
Memberikan hatimu disaat hatiku hilang………
Engkau bukan bagian dari darahku…..
Engkau juga bukan belahan hatiku…
Tapi engkau hanyalah kepingan diri….
Yaitu sahabat..

Mei 06

Template by : kendhin x-template.blogspot.com